Resesi di ujung mata, Ekonomi Syariah bisa apa?

(isefidkl) Dalam rangka memperingati Milad Isefid (Islamic Economic Forum for Indonesian Development) yang memasuki umur yang ke-18, pengurus Isefid IIUM periode 2019/2020 berinisiatif melaksanakan berbagai rangkaian acara, salah satunya yaitu webinar pada malam Sabtu, 26 September 2020 dengan tema “Resesi di Ujung Mata, Ekonomi Syariah Bisa Apa?”. Narasumber pertama ialah Dr. Sutan Emir Hidayat, sekarang beliau menjabat sebagai Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS. Dr. Sutan Emir juga merupakan alumni IIUM yang memperoleh gelar Phd dan MBA degree sangat bekompoten dalam ranah ekonomi syariah terbukti dari beberapa karya beliau didalam jurnal-jurnal yang tereputasi. Tidak hanya itu, beliau juga menjadi salah satu tokoh berpengaruh dari 500 orang dalam global scale dari tahun 2015-2020 oleh ISFIN. Kemudian narasumber kedua ialah bapak Delil Khairat, MBA yang sekarang menjabat sebagai ketua 1 MES Malaysia. Beliau tengah melanjutkan pendidikan Phd di IIUM jurusan Islamic Banking and Finance. Bapak Delil Khairat juga menjabat sebagai underwriter & client manager di Swiss Re Takaful yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia. Banyak perjalanan karir beliau yang luar biasa, yang mana bapak Delil aktif dalam dunia takaful/asuransi. Saat ini beliau sedang membangun startup yang bernama Biru yang bergerak dibidang takaful asuransi berbasis syariah.

Dr. Emir menjelaskan bahwa pada tahun 2019, Perkembangan Ekonomi Syariah Indonesia di tingkat Global menunjukkan peningkatan ranking yang signifikan. Apabila kita melihat perkembangan Industri Halal dan Keuangan Syariah Indonesia, pangsa pasar keuangan syariah di Indonesia dari tahun ke tahun naik yang mana per juni 2020 mencapai angka 9,63% walaupun masih menjadi PR karena tidak mencapai angka 2 digit angka. Kemudian dalam sektor industri halal, total spending penduduk Indonesia untuk produk dan jasa halal pada tahun 2018 mencapai 218,8 milyar US Dollar dan akan tumbuh sekitar 5,3% sampai tahun 2025. Selanjtnya, perkembangan Pasar Modal Syariah di Indonesia, rasio sahan syariah di Bursa Efek Indonesia terdiri dari 64% dari total saham yang terdaftar, jadi terdapat sekitar 446 dari 692 saham yang terdaftar di Indonesia merupakan sharia compliant.  Hal tersebut merupakan hal yang menggembirakan ujar Dr. Emir.

Lalu bagaimana gambaran perkembangan Ekonomi Global dan Indonesia di tengah pandemic Covid-19? Dr Emir menjelaskan bahwa dari segi pertumbuhan ekonomi baik di Indonesia maupun di negara yang maju sekalipun, dampaknya sangat jelas ada. Tekanan terhadapan perkembangan ekonomi global diperkirakan akan berlanjut pada triwulan II dan triwulan III tahun 2020 sebelum mulai pulih, kemungkinan pada triwulan tahun 2020. Selain itu negara-negara eknomi maju akan terpukul lebih keras dibandingkan negara berkembang. Perekonomian Indonesia triwulan II terkontraksi -5,32% sedangkan PDB dunia terkontraksi sekitar -0,3%.

Kemudian bagaimana komitmen pemerintah dalam memajukan eknonomi syariah nasional? Dr. Emir menjawab bahwa komitmen pemerintah Indonesia dalam memajukan ekonomi syariah nasional mulai membaik, hal ini berdasarkan diterbitkannya Komite Nasional dan Keuangan Syariah (KNEKS). Tugas dari KNEKS sendiri adalah untuk mempercepat, memperluas, dan memajukan perkembangan ekonomi dan keuangan syariah dalam rangka memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Peran ekonomi dan keuangan syariah dalam pemulihan ekonomi nasional berdasarkan pemaparan Dr Emir, yang pertama, terdapat beberapa peran dari sektor perbankan syariah dan industri halal dalam meminimalisir dampak Covid-19 contohnya Bank Syariah Mandiri memberikan bantuan 2.500 APD dan masker ke rumah sakit yang membutuhkan, Asbisindo mengumpulkan dana untuk membeli APD dan Masker, serta perusahaan Wardah, yang mana perusahaan di bawah industry halal telah menyumbangkan 40 milyar rupiah untuk bantu aksi Pandemi. Lalu yang kedua rekomendasi kebijakan perbankan syariah yang bertujuan membangun kelembagaan industri perbankan syariah yang efisien, kompetitif dan sustainable. Contohnya, Bank Umum Syariah menjadi peserta program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Lalu yang ketiga optimalisasi pengelolaan ZIS wilayah kelurahan/desa, diharapkan pengelolaan zakat ini terdesentralisasi di tingkat kelurahan/desa. Tujuannya adalah apabila lokasi pendistribusiannya berdekatan maka pengumpulan dan pendistribusiannya lebih cepat.  Selain itu, model pengelolaan zakat berbasis wilayah ini mendorong pengelolaan zakat lebih merata dan berperan optimal di lokasi terdekatnya.

Dalam sesi yang dipaparkan oleh Bapak Delil, yang pertama sekali di bahas adalah terdapatnya perbedaan hasil negara-negara untuk melawan Covid-19 yang padahal menggunakan strategi umum, strategi umum yang dimaksudkan misalnya mobility restriction seperti lockdown, di Indonesia sendiri dinamakan PSBB. Namun outcome dari common strategies tersebut berbeda, hal tersebut disebabkan oleh bebagai factor contohnya intensity atau dosisnya, seintensif mana lockdown ini dilakukan, kemudian ada juga public communication, apakah komunikasi terhadap public termanage dengan baik atau tidak, dan lain sebagainya. Kemudian bapak Delil menjelaskan bahwa berdasarkan data dari IMF menyatakan bahwa Covid-19 akan menjadi bencana ekonomi terbesar di dunia dalam 100 tahun terakhir. Lalu agregat GDP dunia, terutama kita yang berada di kawasan Asia akan menurun drastis, dibandingkan krisis-krisis sebelumnya. Yang menarik adalah, hampir semua Negara, terutama Negara dengan penyebaran Covid-19 yang cukup parah mau tidak mau menyalurkan economic stimulus package. Indonesia sendiri menstimulus 4,4% dari GDP. Problemnya adalah bagaimana negara bisa mendapatkan uang untuk stimulus package tersebut? Tidak lain adalah dengan cara jurus lama, yaitu dengan mengandalkan utang.

Bapak Delil lanjut menjelaskan, pemerintah dunia, pemerintah dengan negara-negara yang mermayoritaskan penduduk muslim masih mengandalkan utang. Walaupun, pada dasarnya ekonomi konvensional ini memang berbasis utang. Lalu muncul pertanyaan where is Islamic Economics? Dimana ekonomi Islam dalam segala kekalutannya? Memang harus kita akui ekonomi Islam belum menunjukkan signifikansinya.

Kemudian bapak Delil memaparkan bagaimana sebenarnya ekonomi Islam itu sendiri secara singkat. Pertama-tama sering sekali kita terjebak kalau eknomi islam adalah bagian dari ekonomi konvensional. Secara sadar maupun tidak, kita terjebak dalam pemikiran mindset bahwa Islamic Economics is another fashion of economy. Inilah yang sesungguhnya membatasi imajinasi kita, padahal ekonomi islam menawarkan banyak hal yang tidak dimiliki oleh ekonomi konvensional. Di dalam ekonomi islam terdapat sektor ketiga seperti zakat, infaq dan shadaqah, yang mana tidak dimiliki oleh konsep ekonomi manapun. Dan pada sektor inilah, pak Delil percaya, kita semua percaya inilah yang menjadi area kemenangan kita, terutama dalam hal menciptakan keadilan dan pemerataan, dengan demikian ekonomi Islam berdampak nyata, lebih riil dan terukur bagi umat keseluruhannya. Sehingga sebagian besar Sustainable Development Goals sesungguhnya dapat dicapai dengan penerapan ekonomi sektor ketiga yang telah dijelaskan sebelumnya. Lalu sesi pak Delil ditutup dengan kesimpulan, apasih yang menjadi masalah kita di Indonesia? Maka, menurut pak Delil adalah disconnection between academia and industry, antara para akademisi, cendikiawan dan industry pekerja yang menjalankan ekonomi. Jadi, kalau mulai saat ini bisa mendekatkan ubungan academia dan industry, pak Delil yakin percepatan ekonomi Islam di berbagai sector akan lebih menonjol dan akan mecapai momentum-momentum yang mencengangkan.

Red: sarah sukri

News Reporter

Leave a Reply

%d bloggers like this: